Penulis Milineal di Era Media Sosial

MUHAMMAD SUBHAN
email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

JIKA milineal (millineals) disebut sebagai generasi yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000—atau di tahun ini mereka telah berumur 17-37 tahun—maka, saya termasuk generasi terakhir dari generasi yang juga disebut Gen Y itu. Sebelum Gen Y muncul, dunia mengenal Generasi X yang lahir dari ledakan baby boomers di tahun-tahun yang lebih pahit dan sulit sebab di zaman mereka nyaris jauh dari sentuhan teknologi dan bumi dirusak dengan berbagai peperangan. Setelah zaman melewati Generasi Y, muncul Generasi Z yang diserang dengan berbagai perangkat teknologi lebih canggih dan segala kebutuhan mereka terpenuhi dari sentuhan ujung jari. Mereka lahir antara tahun 2005 sampai dengan 2010. Setelah mereka, lahir lagi generasi berikutnya yang dikenal sebagai Generasi Alpha—lahir antara tahun 2011 sampai dengan tahun 2025—dan mereka orang-orang mapan dari segi ekonomi di usia muda, berjiwa usaha, terdidik dan memiliki orang tua yang kaya. Baca lebih lanjut

Iklan

Nyanyian

MUHAMMAD SUBHAN
email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

BERSAINGLAH kedua lagu itu. Merebut hati pendengarnya. Sama-sama populer. Sama-sama digemari.

hei sayangku
hari ini aku syantik
syantik bagai bidadari
bidadari di hatimu

Di angkot. Di lepau-lepau. Di pasar. Di panggung-panggung 17-an. Lagu itu dinyanyikan.

Ada juga grup ‘drumband’ berpawai mengadobsi musiknya. Penonton bertepuk sorak. Mungkin karena terdengar rancak. Baca lebih lanjut

Lombok, Kenangan Itu…

MUHAMMAD SUBHAN
email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

TAHUN itu pertama kali saya naik pesawat udara. Saya ingat, di pertengahan 2004.

Pimpinan koran tempat saya bekerja menugaskan saya mengikuti Kunjungan Kerja (Kunker) Wakil Rakyat di salah satu lembaga legislatif di Sumatra Barat. Tujuannya ke Lombok, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Tentu saya gembira, sebab baru setahun bekerja di koran itu sudah diberi kepercayaan untuk keluar provinsi. Naik pesawat lagi. Garuda. Perasaannya campur aduk; gula-gula.

Beberapa wartawan senior di kantor saya bisik-bisik, kok saya yang dipilih. Kan masih banyak wartawan lain yang bisa ditugaskan. Baca lebih lanjut

Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki

MUHAMMAD SUBHAN
Email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

PERBEDAAN pendapat adalah rahmat. Tapi ungkapan itu tidak sepenuhnya benar, sebab tidak terjadi di ranah kesusastraan Indonesia modern hari ini di mana internet menjadi salah satu medium penyampai pesan.

Perbedaan pendapat di era media sosial khususnya Facebook dan Whatsapp yang dilakoni akun-akun segelintir sastrawan Indonesia, telah dikotori ketidakdewasaan berpikir, bersikap dan berkata-kata. Bertolak belakang dengan keahlian yang ditekuni; menulis karya sastra.

Sejatinya, sastrawan sebagai ahli sastra, yang terlatih mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan—adalah anutan yang patut diteladani. Teladan, bukan saja merujuk pada keindahan tutur gaya bahasa yang ditulisnya, mutu karya itu, tetapi juga pada kesantunan dalam menimbang setiap persoalan yang tengah terjadi. Baca lebih lanjut

Jika Saya Berbeda Jalan Apa Kita Masih Berkawan?

MUHAMMAD SUBHAN
Email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

1

ILMU pengetahuan tumbuh dari silang sengketa. Penganut teori bumi datar (pseudoscience) di Eropa pada masa-masa gelap menolak pernyataan bahwa bumi bulat. Siapa pun yang berani mengatakan bumi bulat konsekuensinya berdiri di tiang gantungan.

Otoritas gereja yang otoriter dominan mendukung teori pseudoscience di masa itu.

Di abad ke-16 muncul Nicoulas Copernicus yang melawan arus. Ilmuwan asal Polandia itu membuktikan melalui teorinya bahwa bumi bulat, tidak datar. Barat buncah, tapi kemudian memilih membuka mata dan mengklaim bahwa Nicoulas Copernicus orang pertama yang menemukan teori bumi bulat. Baca lebih lanjut

Selamat Hari Pariwisata; Padangpanjang Layak Jadi Kota Bunga

MUHAMMAD SUBHAN
email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

Ya, Padangpanjang layak menyandang gelar Kota Bunga. Tepatnya, “Kota Bunga Padangpanjang”. Dan, di Sumatera Barat belum ada kota yang “menyandang gelar” itu.

Pertanyaannya, siapa yang berhak menyematkan gelar Kota Bunga untuk Padangpanjang? Jawabannya, masyarakat Kota Padangpanjang sendiri! Baca lebih lanjut

Muhammad Subhan Juara Lomba Menulis Potensi Pariwisata

PADANGPANJANG — Muhammad Subhan, Koordinator Forum Pegiat Literasi Kota Padangpanjang keluar sebagai Juara Pertama lomba menulis potensi pariwisata kota itu yang digelar Dinas Pariwisata bersama Dinas Kominfo setempat dalam rangka Festival Serambi Mekah ke-6.

“Setelah kami lakukan penjurian dari berbagai aspek dari sekian banyak tulisan yang masuk akhirnya kami memutuskan tulisan Muhammad Subhan sebagai juara pertama,” kata Ampera Salim, salah seorang tim penilai yang juga Sekretaris Dinas Kominfo Kota Padangpanjang, Senin (25/9), di ruang kerjanya. Baca lebih lanjut

Monumen Literasi; Tawaran Konsep Wisata Alternatif

MUHAMMAD SUBHAN
email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

NAMANYA Sindy. Remaja sekolah menengah di salah satu SMK di Kota Padangpanjang. Perawakannya tinggi semampai. Cantik. Ia duduk di sebuah bangku di Taman Mini. Ia tak seorang diri, ditemani dua sahabatnya, Lani dan Ria.

Bersama teman-temannya itu, Sindy asyik mengutak-atik handphone Android miliknya. Entah apa yang dilihat. Tapi saat ditanya, ketiga pelajar itu kompak menjawab, sedang mencari tugas sekolah. Baca lebih lanjut

Berayah ke Riau Beribu ke Minangkabau

Muhammad Subhan
BERAYAH KE RIAU BERIBU KE MINANGKABAU

Sekali waktu
Ia pulang ke tanah Melayu
Mencari ayah yang hilang ditelan bumi
Disuruh ibu yang menunggu karena rindu

Kenapa harus rantau dijauhkan
Kenapa harus kampung ditinggalkan Baca lebih lanjut

Dua Cerita Tentang Kepergian Ramadan

MUHAMMAD SUBHAN
Email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

CERITA PERTAMA

BARULAH ia insyaf, kehadiran kekasihnya itu sungguh berharga. Tetapi keinsyafannya tidak lagi berguna, sebab kekasihnya sudah pergi jauh.

Dan, air matanya jatuh. Ia menyesal mengapa ia begitu tak acuh. Padahal ia hanya diberi kesempatan sebulan saja—waktu yang singkat untuk sebuah pertemuan—berasyik-masyuk, khusyuk dalam rukuk kepasrahan.

Begitulah, jika sudah tiada—tak ada lagi kekasihnya itu di sisinya—baru terasa. Di saat masih ada, sering disia-siakan, dianggap angin lalu. Baca lebih lanjut