Peta Sastrawan Muda Minangkabau Dekade Ini

Oleh Fadlillah Malin Sutan

Di tengah semangat penuh kegairahan, para sastrawan muda terjun ke dunia nasional. Mereka seperti  pendekar remaja yang baru turun gunung. Mereka baru mengenal dunia persilatan sastra. Namun sesuatu yang dapat dicatat tentang sepak terjang mereka adalah “mereka sudah berada di tataran pembicaraan dunia sastra nasional”. Mereka sudah menjadi bahan pergunjingan Nirwan Dewanto, Hasif Amini, Maman S Mahayana, Sout Situmorang, bahkan mereka sebagian besar diundang dalam Festival  Internasional Ubud Writers dan mendapat anugrah sastra Pena Kencana.

Mereka dapat dikatakan angkatan “generasi sesudah Gus tf”, dalam peta perkembangan sastra generasi Minang terakhir. Peta itu dapat dibagi dua, pertama yang ditumbuhkan oleh ranah Minangkabau dan kedua adalah mereka yang dibesarkan oleh ranah rantau. Adapun yang ditumbuhkan ranah Minangkabau adalah Sondri BS, Muhammad Isa Gautama, Iggoy el Fitra Zelfeni Wimra, Ragdi F. Daye, Azwar, Esha Tegar Putra, Romi Zarman, Deddy Arsya, Pinto Anugrah, Anda S. Adzan Koeboe dll.. Kemudian yang dibesarkan oleh ranah rantau adalah Riki Dhamparan Putra, Indrian Koto, Damhuri Muhammad, Raudal Tanjung Banua dan masih banyak lagi.

Adapun yang di ranah Minangkabau ada dua kota yang merupakan tempat pertumbuhan para sastrawan muda, yakni Padang dengan beberapa komunitas, seperti Sanggar Pelangi yang diasuh oleh sastrawan Yusrizal KW, komunitas Kandang Pedati, komunitas Ilalang Senja, komunitas Daun, juga ada di UBH, IAIN, UNP dan juga di Fakultas Sastra Universitas Andalas. Kemudian kota Payakumbuh dengan kumunitas Intro yang diasuh oleh sastrawan Iyut Fitra, Gus tf, Adri Sandra. Dua kota ini dalam dua dekade ini dapat dikatakan pusat pertumbuhan sastra di Minangkabau.

Adapun Padang Panjang hanya menjadi kota persinggahan dan hanya lima tahun belakangan ini baru mencoba hadir. Ini didukung oleh kegiatan Taufiq Ismail membuat rumah peristirahatan dan puisi di Aie Angek dan ada beberapa kegiatan sastra STSI yang sesungguhnya lebih cenderung kepada kegiatan teater. Ada beberapa yang melahirkan novel, namun mereka adalah angkatan Gus tf.

Adapun kota rantau yang menjadi basis perkembangan para sastrawan muda asal Minang adalah Yogyakarta, Jakarta, Denpasar dan sebentar lagi, barangkali, akan dapat didengar mereka akan tumbuh di kota-kota dunia seperti Leiden, Soul atau Kuala Lumpur. Mereka membangun komunitas dan kegiatan sastrawan.

Seandainya mempunyai waktu untuk membaca koran hari Minggu nasional, seperti Kompas, Koran Tempo, Seputar Indonesia, Republika, Jawa Pos, dan Jurnal Nasional, maka akan  didapatkan karya mereka di sana. Seandainya orang bertanya, di mana kita dapat membuktikan perkembangan atau di mana barometer perkebangan sastra Indonesia. Saya akan menjawab, koran, buku dan dunia maya. Seandainya kita pergi ke toko buku, maka kita akan mendapat buku-buku baru dari mereka.

Horison masih hidup, namun bukanlah tempat mata akan tertuju di dunia sastra Indonesia hari ini. Jika ada yang tidak sependapat, itu wajar, monggo, dan banyak digugat, namun sesuatu hal yang tidak dapat dipungkiri, pusat sastra sudah menyebar. Horison pada waktu tiga dekade ini dapat dikatakan bukan lagi menjadi barometer perkembangan sastra di Indonesia, tetapi mencoba menjadi barometer sastra siswa SLTA dan SLTP bersama gurunya.

Di ranah Minangkabau ada empat tokoh sastrawan yang dekat dan menemani pertumbuhan mereka yang cukup telaten. Meraka adalah Rusli Marzuki Saria yang dapat dikatakan kakek guru mereka, kemudian Yusrizal KW dengan perguruan Sanggar Pelangi-nya. Adapun di Payakumbuh adalah Iyut Fitra dengan padepokan Intro-nya. Kemudian Gus tf, yang sekali-kali turun gunung, terakhir “pendekar” Perempuan Buta dan Kemilau Cahaya ini pergi negeri Utara (Korea Selatan) untuk bercukur di tengah salju.

Pertumbuhan itu, dalam sekali setahun dipicu dengan workshop sastra, seperti workshop Kayu Tanam, Ladang Padi, Taeh (sayang dalam dekade ini tidak ada). Namun dalam hal ini juga tidak dapat dilupakan kehadiran DKSB dan Taman Budaya Sumatra Barat dan para sastrawan yang berada di Minangkabau seperti Wisran Hadi, Darman Moenir, Haris Effendi Tahar, Upita Agustin, dll.

Pada prinsipnya pertumbuhan sastrawan muda lebih banyak mandiri, kemudian mendapat  bimbingan dan dialog dari sastrawan tua. Mereka tumbuh dengan prihatin, sesungguhnya dapat dikatakan tidak ada bimbingan dan campur tangan pemerintah. Mereka mendapatkan honor yang sangat kecil jika mereka menulis di media massa Padang, dibandingkan dengan kawan-kawan propinsi lain, namun ini membuat mereka bersemangat untuk menulis. Namun hal yang patut dihargai pada media massa di Padang adalah; media massa di Padang tetap menyediakan ruang sastra. Hal ini yang tidak dapat dinilai dengan uang.

Pada masa-masa tahuan 79-an sampai 80-an, para sastrawan angkatan Gus tf merasakan betapa sulitnya menembus media-media besar nasional (seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, majalah Horison). Akan tetapi, pada masa ini, mereka mampu melakukan dengan cepat dan baik. Semua itu menunjukan data-data perkembangan sastrawan asal Minang, bahwa sastrawan muda tumbuh dengan baik di Minangkabau.

Mereka juga sudah menerbitkan buku seperti, Kampung dalam Diri, Pinangan Orang Ladang (karya Esha Tegar Putra) , Pengantin Subuh (karya Zelfeni Wimra), Parang Tak Berul Ulu (karya Raudal Tanjung Banua), Percakapan Lilin (karya Riki Dhamparan Putra), Novel Dadaisme karya Dewi Sartika. Damhuri Muhammad dengan Laras, Tubuhku Bukan Milikku (2005), Lidah Sembilu (2006), Cinta di Atas Perahu Cadik–cerpen Kompas pilihan 2007, (2008), Smokol–cerpen Kompas pilihan 2008, (2009), Juru Masak (2009), dan Darah-Daging Sastra Indonesia─kumpulan esai sastra (2010).

Di samping itu, ada beberapa novel antara serius dan populer yang cukup jadi perhatian nasional seperti Negara Kelima, Rahasia Meede (karya ES Ito), Bidadari Padri (Karya Saiful A. Imam), Novel Api Paderi (karya Muhammad Sholihin), Novel Cinta di Kota Serambi (karya Irzen Hawer), Rinai Kabut Singgalang (karya Muhammad Subhan), Love Save Me, Don’t Touch Me!, Menyalakan Matahari, Really…I Love You!, Terlalu Cinta, I Hate U But…(karya Roidah), Novel Historiography Maharaja Diraja Adityawarman sebelumnya ada novel Cindurmato dari Pagaruyung. Negeri 5 Menara (karya Ahmad Fuadi).

Tiba-tiba seperti ada teriakan atau detuman besar. Dentuman itu adalah; “sastrawan muda asal Minangkabau sudah langka di forum nasional”. Sebagaimana dikatakan dengan perhatian yang serius kepala Balai Bahasa Padang, Syamsarul (Kompas, Selasa, 14/12/2010). Mencengangkan, dan terasa aneh. Goncangan itu seperti gempa. Hal ini membuat kening menjadi berkerut. Pernyataan ini tidaklah baru, seperti gempa, dia pernah terjadi, dan ini adalah yang ke tiga, setelah ketua DKSB Sumbar tahun 2008, dan tahun 2003 salah seorang dekan FPBS di kota Padang juga mengatakan dalam nada yang sama di koran Media Indonesia. Mungkin mereka mempunyai ukuran sendiri.

Pada tahun 2009, mantan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi (sekarang menjabat Menteri Dalam Negeri), menilai bahwa sastrawan Sumatera Barat malas berkarya (Singgalang, 27/04/09). Padahal para sastrawan muda itu bekerja dengan menahan lapar, bertanggang, minimnya buku, berbagai fasilitas serba kurang. Tidak ada pemerintah yang membantunya. Tetapi mengapa pemerintah seenaknya mengatakan malas? Jika dikatakan di bilik kecil, mungkin itu sebuah kritik, namun bila di depan orang banyak, ini namanya secara moral (orang Minang) mempermalu orang namanya. Dan yang lebih pedihnya, setelah diberi uang lima juta untuk menerbitkan buku kemudian dimaki dan dipermalu. Dulu saya pernah menulis dengan perpektif positif tentang hal ini, tetapi untuk kali ini, seperti kata Oma Irama, “terlalu”. Sulit untuk ditolerir. Karena dia sudah menjadi “katan ndak bakarambia”.

Mereka sebenarnya tumbuh dengan swadaya yang penuh dengan keprihatinan, pada satu pihak, memang tidak dijangkau oleh pihak Balai Bahasa dan instansi pemerintahan lainnya. Sehingga pada tahun 2000-an ini sempat orang nomor satu di Sumatera Barat, tidak tahu dengan Gus tf sebagai sastrawan nasional, dia baru tahu ketika pembisiknya memberi tahu.

Semua pernyataan itu mungkin dapat dikatakan benar bila kata-kata para pejabat itu sesuai dengan kenyataan. Akan tetapi semua itu menjadi sesuatu yang janggal dan aneh, karena pada faktanya tidaklah seperti itu yang terjadi. Bahkan sastrawan muda asal Minangkabau sesudah generasi Gus tf mampu berkiprah di forum nasional lebih awal dan cukup banyak. Tidaklah pada tempatnya membandingkan mereka dengan penulis sastra populer.

Seandainya ditanya para sastrawan asal Minang, apa yang mereka berikan kepada negara, rasanya mereka telah mengharumkan Sumatra Barat, mulai dari Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Robohnya Surau Kami sampai kepada Gus tf (adakah kehidupan sastra masuk dalam agenda DPRD Sumbar? Saya yakin nonsen!). Fakta pertumbuhan prestasi sastrawan muda asal Minang, maka tidaklah selayaknya untuk disinggung harga diri mereka dan disudutkan dengan kata-kata yang tidak pantas kepada mereka.

Sebenarnya sangat mudah bagi pemerintah terutama pihak Balai Bahasa untuk membuat ukuran pertumbuhan sastra di Minangkabau. Hanya dengan membuat Award terhadap novel, puisi, cerpen, esai terbaik atau Festival Sastra setiap tahun atau sekali tiga tahun. Ini dilakukan oleh DKJ, KLA, dan Pena Kencana, dan di Riau diadakan setiap tahun. Kemudian memberikan beasiswa kepada sastrawan muda. Ini adalah tindakan yang menumbuhkan dan  menghargai dunia sastra.

Seandainya mereka hengkang ke Malaysia, dan orang Malaysia menyebut sebagai sastrawan mereka, itu syah saja, karena mereka lebih dihargai di negeri orang daripada di negeri sendiri. Sebaiknya mereka memang tidak usah disebut sebagai sastrawan Sumatera Barat, karena Sumatra Barat tidak memberikan apa-apa (kecuali uang lima juta kemudian umpatan), tetapi bila disebut sastrawan Minang, kerena mereka terikat secara genetis dan mereka dihidupi oleh budaya Ibunya (dan mereka tidak ingin jadi Malin Kundang).

Sastra hanya dapat hidup dengan dihargai. Adapun untuk “membunuh” dunia sastra sesungguhnya mudah saja; jangan hargai, hina, singkirkan, letakkan pada nomor terakhir dalam dunia pembangunan, maka dunia sastra akan “hidup segan mati pun tak mau”. Semoga tidak demikian adanya.

Denpasar, 2010.

*) Fadlillah Malin Sutan,  staf pengajar Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang. Sekarang, sedang mengambil program S3 Pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana, Denpasar.

Sumber: Koran Harian Padang Ekpres, Minggu, halaman 13, Tanggal 2 Januari 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: